INILAHCOM, Jakarta - Kriminolog Kisnu Widagso menilai terlalu berlebihan jika aksi penyanderaan dan perampokan Pondok Indah dijadikan standar penilaian Jakarta tidak aman.
"Dalam pandangan saya tidak dapat serta merta sebuah wilayah dinyatakan tidak aman hanya berdasarkan terjadinya satu peristiwa kejahatan," katanya saat berbincang dengan INILAHCOM, Sabtu (3/8/2016).
Menurutnya, Masih banyak indikator lain yang menentukan tingkat keamanan suatu kota.
"Bercermin dari kasus perampokan dan penyanderaan, mengingat bahwa kasusnya jarang terjadi namun kualitas dari kejahatan itu dapat dikategorikan serius maka biasanya hanya akan berdampak pada persepsi rasa aman masyarakat terhadap suatu wilayah saja," ungkapnya.
Dosen FISIP Universitas Indonesia ini menganggap, ramainya pemberitaan dan perhatian yang diberikan kepolisian atas ddalam penyanderaan dan perampokan di Pondok Indah lantaran dua hal.
"Pertama adalah seriusitasnya, kedua tempat atau lokasi kejadian. PI selama ini dipersepsikan sebagai wilayah yang aman mengingat banyak anggota masyarakat dengan status sosial tinggi yang secara pribadi mampu berinvestasi dalam bidang keamanan dan rasa aman, namun toh pada akhirnya tetap saja dapat terjadi kejahatan di wilayah tersebut," bebernya.
Sehingga, reaksi cepat pihak kepolisian untuk mengatasi aksi dua pelaku penyanderaan dan perampokan perlu di apresiasi.
"Reaksi pihak kepolisian relatif sigap, menunjukkan keseriusan, mengerahkan kekuatan yang memadai, dan berakhir nyata terbukti mampu mengatasi kejahatan tersebut, maka persepsi rasa aman yang terbentuk tidak akan mengarah kepada munculnya fear of crime," tandasnya.
Sebelumnya, dua orang pelaku berinisial S dan AJ menyandera satu keluarga yang tinggal di Jl. Bukit Hijau 9, Pondok Indah, Jakarta Selatan.
AJ dan S masuk ketika pembantu rumah tangga Asep, Rini mendengar ada yang mengetuk pintu gerbang rumah. Kemudian Saat akan membuka pintu, AJ dan S langsung menodongkan pistol ke arah Rini.
Kemudian mereka meminta semua kunci yang di bawanya dan memaksa antarkan kedua pelaku ke kamar sang majikan. Lalu masuk menyergap sang majikan yang diketahui bernama Asep Sulaiman, istrinya Eis Nurhayati, dan sang anak Safira.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar