INILAHCOM, Jakarta - Brigadir Adi, salah satu anggota Polres Metro Jakarta Pusat, menjadi korban tabrak lari di Jl. Senen Raya, Senen, Jakarta Pusat.
Ironisnya tindakan teledor tersebut dilakukan oleh pegawai honorer Suku Dinas Perhubungan (Sudinhub), Jakarta Pusat.
Insiden itu bermula dari Brigadir Adi sedang mengendarai sepeda motor menuju Mako Polres Jakpus untuk berdinas.
Saat tiba di TKP, datang mobil derek dikemudikan oleh petugas Dishub honorer yang belakangan diketahui bernama Sukirmanto.
"Saya ada di depan bagian kanan tapi mobilnya maju dan menubruk saya setelah itu bukannya berhenti malah pergi untung ada warga yang tolong dan mengejarnya," ujar Brigadir Adi kepada wartawan, Kamis (1/9/2016).
Brigadir Adi menambahkan, usai kejadian tersebut akhirnya ia menggubungi Kasie Pengendalian Operasional Lalu Lintas Dishub Harlem Simanjuntak guna menginformasikan apa yang dialaminya.
Berselang kemudian Harlem bersama pelaku datang menemui Brigadir Adi dan meminta kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan.
"Tapi sampai sekarang belum ada etikad baik dari sana. Saya ingin selesai dan kembali seperti awal karena sepeda motor sudah rusak dan saya luka-luka berobatnya pakek uang pribadi," pungkasnya. [rok]
Rabu, 31 Agustus 2016
Pegawai Dishub Jakpus Tabrak Polisi di Senen
Ini Karakter Jessica Ditelaah Dari Dagu dan Hidung
INILAHCOM, Jakarta - Terdakwa perkara kematian Wayan Mirna Salihin, Jessica Kumala Wongso, tergambar sebagai sosok yang hemat.
"Dari hidungnya menggambarkan Jessica orangnya hemat," ujar ahli kriminologi Roni Nitibaskara saat memberikan kesaksian dalam kasus tewasnya Mirna di PN Jakpus, Kamis (1/9/2016).
Dagu Jessica dilihat sebagai orang yang tidak ingin mendapat tekanan. "Sifatnya keras kepala," kata Roni yang pernah memeriksa Jessica.
Secara keseluruhan, Jessica termasuk orang yang sensitif, perasaan mudah berubah, emosi tidak stabil, dan mampu menjaga hubungan.
"Dalam diri Jessica diduga ditemukan psikopat," ujarnya. [rok]
Pihak Jessica Keberatan Saksi Penasehat Kapolri
INILAHCOM, Jakarta - Kuasa hukum terdakwa Jessica Kumala Wongso, Otto Hasibuan, menolak saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU).
Saksi yang dimaksud yakni Roni Nitibaskara, kriminolog dari Universitas Indonesia. Ia diketahui pernah bersinggungan langsung dengan Jessica saat proses pemeriksaan kematian Mirna.
"Saksi juga penasehat Kapolri. Jadi objektifnya diragukan," ujar Otto dalam sidang perkara kematian Wayan Mirna Salihin di PN Jakarta Pusat, Kamis (1/9/2016).
Mendegar pernyataan Otto, Jaksa JPU langsung menyela pernyataan Otto lantaran keterangan saksi dinilai tidak akan mengurangi keobjektifannya sebagai seorang ahli yang paham dalam bidangnya.
"Sebagai penasehat kami juga mengkritik Kapolri," ujar Roni menimpali omongan Otto.
Sementara itu, mendengar adanya keberatan dari kuasa hukum terdakwa. Hakim Ketua Kisworo tetap mempersilakan Roni untuk memberikan keterangan terkait kasus tewasnya Mirna akibat menyeruput es kopi Vietnam bercampur sianida.
"Keberatan kuasa hukum tetap kami catat. Saksi tetap dimintai keterangan," tandasnya. [rok]
Polda Bekuk 5 Pelaku Pengeroyokan Andrew
INILAHCOM, Jakarta - Kasubdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Budi Hermanto mengatakan pihaknya berhasil menangkap lima tersangka pengeroyokan Andrew Budikusuma di dalam bus TransJakarta, Kamis (1/9/2016).
"Tersangka yang diamankan adalah DS, HBP, MA alias Aweng, S, dan AR. Semuanya warga Tambora," ungkapnya di Jakarta.
Ia menjelaskan para tersangka dibekuk di rumah masing-masing sekitar pukul 04.00 WIB.
"Para pelaku di tangkap di alamat rumah masing-masing pada pagi tadi sekitar pukul 04.00 WIB. Bersama barang bukti pakaian yang dipakai para pelaku saat kejadian," jelasnya.
Ia menjelaskan, dari keterangan tersangka, kejadian berawal saat salah satu pelaku mendekati korban di dalam bus Transjakarta untuk mengajak bercanda.
"Tetapi korban cuekin sehingga pelaku kesal sehingga cekcok mulut dan pelaku mengeluarkan kata-kata 'Lo Ahok-lo Ahok' karena kebetulan korban keturunan cina, dari situlah para pelaku melakukan pengeroyokan, dalam ini menurut para pelaku tidak ada hubungannya dengan pak Ahok selaku Gubernur DKI Jakarta," jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono mengatakan pihaknya telah memeriksa tiga saksi terkait laporan pengeroyokan terhadap Andrew Budikusuma di dalam bus Transjakarta.
"Ya betul Andrew sudah lapor. Dan penyidik sudah periksa 3 saksi. Korban dan dua sekuriti," kata Awi di Jakarta, Rabu (31/8/2016).
Ia juga menyebut penyidik sudah mengamankan rekaman CCTV tindakan pengeroyokan Andrew di halte Transjakarta koridor JCC Senayan.
"Penyidik sudah sita bukti cctv di dalam bus depan JCC," jelasnya.
Dari rekaman CCTV itu, Awi mengaku memang terdapat gambaran aksi pemukulan dari sejumlah kepada Andrew. Namun, ia belum bisa memberikan penjelasan resmi sebelum bukti itu diolah puslabfor.
"Jadi kemaren secara visual ada gambaran kegiatan pelaku pemukulan pengeroyokan. Kita tetap serahkan ke digital forensik puslabfor untuk dianalisa...kita sudah minta tinggal tunggu hasil," jelasnya.
Diketahui, Andrew Budikusuma korban pengeroyokan oleh orang tak dikenal di dalam Bus Transjakarta akhirnya melaporkan kejadian yang menimpanya, Selasa (30/8/2016).
Saat itu dia tengah menaiki bus Transjakarta dari Kuningan menuju ke Semanggi.
Setibanya bus tersebut di Halte Semanggi, ada sekitar 3-4 orang menaiki bus yang ditumpangi Andrew sambil berteriak menyebut nama Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.
"Mereka provokasi dengan nada-nada nanya saya nunjuk saya 'Lu Ahok bukan, Lu Ahok bukan' trus salah satu juga katain 'mau pilih merem atau sipit?'" katanya di Polda Metro Jaya, Selasa (30/8/2016).
Setelah itu, salah satu dari mereka juga merangkul Andrew dari belakang sebelah kiri. Dan tepat di Halte Senayan JCC Andrew ditarik keluar dan dikeroyok.
"Itu bener-bener apes sih, maksudnya saya nggak bawa HP waktu itu ketinggalan. Mau gimana lagi? Yaudah yang penting selamet," katanya.
Andrew menjelaskan, kondisi bus waktu memang tidak terlalu rame, tapi orang yang ada di dalam tidak berani memberikan pertolongan.
"Ramenya tidak terlalu sesak ya. Tapi ada beberapa orang. Tapi ya kebanyakan usia-usia lanjut jadi nggak berani juga karena orang-orang yang mereka hadapi sebaya sama mas-mas ini (mengarah ke pewarta berumur di bawah 30 tahun) gitu loh," jelasnya.
Meski demikian ia mengaku ada satu orang yang akhirnya membantu menariknya kembali ke dalam bus pascaaksi pengeroyokan.
"Yang nolongin saya yang saya inget satu sih. Tepat pas narik itu," katanya.
Andrew mengaku sempat melakukan sedikit perlawanan saat pengeroyokan itu. Andrew lindungi dirinya dengan sebuah botol. Ia menggunakan botol itu untuk memukul salah satu pelaku.
"Saya bales pakai botol mereka baru takut. Saya balesnya pakai botol You C 1000, yang kaca. Kebetulan saya beli itu karena butuh duit kecil dan mau naik angkot lagi. Jadi saya bawa-bawa, dan kebetulan pas dipukulin gimana cara saya bisa lepas taudah yg didekat saya saya ambil," jelasnya.
Ia pun menyebut para pelaku tidak menyebutkan asal usul atau apa alasan pengeroyokan terhadapnya.
"Nggak ada ngaku-ngakunya. Tapi pas saya masuk saya pikir bercandaan. 'Ahok ya ahok ya'. Saya pikir guyonan biasa tapi pas mereka lihatin saya. Ah saya jadi target," jelasnya.
Andrew menjelaskan orang yang mengeroyoknya berjumlah 4 orang dengan rentang usia kira-kira 20-30 tahun.
"Salah satu dari mereka saya inget ada yang pakai batik. Tapi saya yakin mereka pasti pekerja, karena di daerah Semanggi," katanya.
Ia menjelaskan, pasca pengeroyokan itu, sudah melakukan pemeriksaan untuk mendapatkan hasil visum. Menurutnya, ada pembengkakan di telinga kanan.
"Mungkin kalau dilihat dari kuping sebelah kanan, ada benjolan tadi sudah divisum. Tapi hasilnya belum keluar. Jumat malam dipukul. Sabtu saya nggak bisa bergerak saya istirahat di kosan saya. Hari Minggu nggak bisa laporan," ungkapnya.
Ia pun mengatakan petugas bus yang dinas hari itu pun tidak memberinya pertolongan. Petugas malah menganggap Andrew ikut perkelahian.
"Jadi saya seakan-akan disuruh berantem juga di halte berikutnya sama para pelaku. Sedangkan itu nggak masuk akal ya. Mereka berempat sedangkan saya sendiri. Dan itu insecure sih," katanya.
Ia pun mengaku tidak pernah menanggapi cibiran yang diterimanya dari para pelaku. Andrew tidak ingin memicu perkelahian.
"Saya nanggepin tapi nanggepinnya maaf saya ga mau cari masalah. Sebisa mungkin saya nggak mau berantem tapi mereka pengen berantem, tapi targetnya saya," katanya. [rok]
Sidang Kopi Mirna, JPU Hadirkan Ahli Kriminologi
INILAHCOM, Jakarta - Kasus tewasnya Wayan Mirna Salihin kembali digelar di Pengadilan Negeri, Jakarta Pusat, Kamis (1/9/2016).
Jaksa Penuntut Umum (JPU) akan menghadirkan ahli kriminologi Ronny Nitibaskara dan ahli psikologi Sarlito Wirawan.
"Harus dua ahli dari JPU hari ini," kata kuasa hukum terdakwa Jessica Kumala Wongso, Otto Hasibuan.
Sidang ke-17 ini merupakan langkah terakhir JPU menghadirkan saksi ahli. Otto belum dapat memastikan siapa saja yang akan dihadirkan sebagai saksi dari pihaknya guna meringankan hukuman Jessica.
"Belum nanti babis sidang baru kita siapkan saksi," tandasnya. [rok]
Ahli Forensik Tak temukan Sianida di Kepala Mirna
INILAHCOM, Jakarta - Hakim anggota, Binsar Gultom mempertanyakan keterangan saksi ahli Forensik RSCM, Budi Sampurna.
Pasalnya, pria yang berprofesi sebagai dokter hanya mengemukakan bahwa Wayan Mirna Salihin tewas adanya tanda-tanda keracunan sianida.
Sehingga, kesaksian Budi secara otomatis berbeda dengan kesaksian para ahli yang dihadirkan jauh sebelumnya oleh JPU yang memastikan Mirna tewas akibat keracunan sianida.
"Keterangan ini (Budi) tidak sejalan dengan ahli forensik sebelumnya," kata Binsar, Rabu (31/8/2016).
Mendengar statement, Binsar, Otto Hasibuan, kuasa hukum terdakwa Jessica Kumala Wongso langsung menimpalinya dengan pernyataan terhadap Budi.
"Jadi ahli tidak mengatakan korban meninggal karena sianida ?" tanyanya.
Budi secara diplomatis menjawab bahwa keterangannya berbeda dengan kesaksian ahli sebelumnya.
"Saya menjelaskan soal rangkainnya," pungkasnya.
Budi mengatakan tidak menemukan sianida di kepala Wayan Mirna Salihin. Hal tersebut diketahui usai memeriksa anggota tubuh Mirna yang tewas setelah mengonsumsi es kopi vietnam di Kafe Oliver, Grand Indonesia, Jakarta Pusat.
"Hasil CT scan di kepala di otak tidak ditemukan kelainan," ujar Budi.
Kendati demikian, pihaknya belum dapat memastikan ada tidaknya sianida di kepala Mirna. Sebab CT scan tidak dapat membaca kelainan sel di otak sehingga perlu menggunakan alat mikroskopik.
Mengingat alat tersebut yang dapat melihat benda yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. "Tidak semua alat kita mampu mendeteksi kelainan sel," tandasnya. [ton]
Jessica Ogah Tanggapi Kesaksian Ahli Forensik
INILAHCOM, Jakarta - Pasca ahli Forensik RSCM, Budi Sampurna memberikan kesaksian terkait tewasnya Wayan Mirna Salihin usai menyeruput es kopi Vietnam di Kafe Oliver.
Hakim memberikan kesempatan terhadap terdakwa tunggal Jessica Kumala Wongso untuk memberikan tanggapan.
Namun, wanita jebolan Billy College Sidney ini enggan berkomentar terkait kesaksian ahli yang telah disampaikan dalam sidang ke-16 tersebut.
"Karena saya tidak mengerti apa-apa," kata Jessica menimpali omongan hakim, Rabu (31/8/2016).
Sebelumnya, Budi Sampurno memberikan keterangan dalam sidang kasus Mirna. Dalam kesaksianya Budi mengaku sempat kesulitan menelusuri penyebab tewasnya Mirna.
Pasalnya, pihak keluarga sempat keberatan memberikan kesempatan pihaknya mengotopsi jasad Mirna dan sudah diawetkan. Padahal Mirna tewas akibat menyeruput es kopi Vietnam yang diduga bercampur sianida.[jat]
Rekaman CCTV Mirna Terkapar Untungkan Ahli
INILAHCOM, Jakarta - Ahli Forensik RSCM, Budi Sampurna mengakui rekaman CCTV vidoe detik-detik Wayan Mirna Salihin terkapar usai menyeruput es kopi Vietnam di Kafe Oliver masuk dalam kategori menguntungkan pihaknya.
"Karena kita bisa melihat gejala pada orang ini (Mirna) sebelum meninggal," ujar Budi di PN Jakpus, Rabu (31/8/2016).
Di sisi lain, Budi menjelaskan, sejatinya sianida dalam proses kerjanya sangat ekstrim. Pasalnya bila takarannya sesuai dengan rencana pemakaian maka akan bereaksi dengan cepat dalam merenggut nyawa seseorang.
Lantaran Sianida masuk ke dalam lambung kemudian ke arteri lalu ke jantung dan disirkulasi ke seluruh tubuh. "Kalau ditelan cepat sekali," tandansya.[jat]
Pendapat Ahli Soal Keluarga Mirna Tolak Autopsi
INILAHCOM, Jakarta - Pasca Wayan Mirna Salihin dinyatakan tewas usai menyeruput es kopi Vietnam, keluarga sempat menolak keinginan penyidik agar pihak kedokteran forensik melakukan autopsi terhadap jasad Mirna.
Beranjak dari hal di atas. Ahli Forensik RSCM, Budi Sampurna turut menanggapinya bahwa kondisi itu merupakan perihal yang wajar.
"Di Indonesia tidak ada aturanya (wajib diautopsi)," kata Budi saat memberikan kesaksian dalam sidang ke-16 kasus Mirna, di PN Jakarta Pusat, Rabu (31/8/2016).
Di sisi lain, menurut Budi, dalam pemeriksaan sampel barang bukti yang dibawa dari TKP dengan temuan di lambung Mirna memiliki kesaamaan.
"Dua-duanya ada caffein dan yang diminum ada CN-nya (sianida)," pungkasnya.[jat]
Selasa, 30 Agustus 2016
Musala Roboh Akibat Hujan, 8 Jamaah Luka-Luka
INILAHCOM, Jakarta - Sebuah musala di Gedung Kawan Lama, Jalan Puri Kencana, Nomor 1, Kelurahan Kembangan Selatan, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat, roboh akibat terhembas hujan angin lebat, Selasa (30/8) malam.
Akibatnya dalam insiden tersebut, delapan orang mengalami luka-luka pada bagian tangan, kaki, dan pinggang, terkena reruntuhan bangunan usai melaksanakan ibadah salat magrib.
Salah satu sekuriti bernama Wayan Patra menjelaskan sekira pukul 18.45 saat delapan orang jamaah sedang melaksanakan salat magrib di TKP dalam keadaan hujan lebat yang disertai angin kencang.
"Tiba-tiba terdengar suara benda patah di Mushola tersebut yang letaknya berada di belakang gedung kawan lama," kata Wayan di Jakarta Barat, Rabu (31/8/2016).
Wayan menambahkan tidak berselang lama bangunan musala tersebut roboh menimpa para jamaah yang telah selesai melaksanakan salat magrib.
Beruntung tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut dan kerugian materiil belum dapat di tafsirkan. [rok]
Polisi Tangkap 2 Bandar Sabu WN Malaysia
INILAHCOM, Jakarta - Kabid Humas Polda Metro Jaya (PMJ) Kombes Awi Setiyono mengatakan Satresnarkoba Polres Jakbar berhasil menangkap 3 WN Malaysia dan 2 WNI pengedar Sabu. Penangkapan dilakukan di dua hari yang berbeda.
"Pertama penangkapan Senin (29/8/2016) sekitar pukul 15:00 di kamar 4202 lt. 42 Apartemen Central Park Recidence jalan Tanjung Duren, Jakarta Barat," kata Awi di Jakarta, Rabu (31/8/2016).
Dari lokasi penangkapan ini Polisi berhasil mengamankan dua tersangka WN Malaysia dan barang bukti sabu.
"Di lokasi ini diamankan 2 paket masing-masing 3 gram yang diduga narkotika jenis sabu-sabu. Serta dua tersangka, Cheong Kok Wai, WN Malaysia (31) sebagai bandar. Dan Poon Soke Wan, WN Malaysia (26 Th), swasta," jelas Awi.
Di hari yang sama sekitar pukul 18:00, polisi juga melakukan penangkapan di parkiran stasiun Pasar Turi Surabaya.
"Dari sini diamankan 12 paket besar Shabu berat brutto 12 kilogram dengan tersangka Christian Sigit Pamungkas (35) dan Petrus (23), keduanya sebagai kurir narkoa," jelas Awi.
Penangkapan ketiga terjadi pada Selasa, 30 agustus 2016 di Hotel Ibis Budget Jl. Mayjen HR Moh. Suko Manunggal Putat Gede Suko Manunggal Surabaya kamar 1023.
"Dari lokasi ini diamankan dua set alat elektronik untuk mengirim sabu dan tersangka Luu Yon Long (WN Malaysia) sebagai bandar narkoba," jelasnya.
Ia menjelaskan, penangkapan bermula saat anggota menerima informasi masyarakat dan olah data IT. Dan diketahui adanya transaksi narkotika yang dilakukan oleh jaringan internasional China-Malaysia yang teroganisir.
"Modus operandi memasukan narkotika dalam jumlah besar melalui jasa ekpedisi dari China ke Indonesia untuk distribusikan melalui Surabaya dan Jakarta," jelas Awi.
Jaringan ini disebut bekerja sangat rapih. Tersangka Cheong Kok Wai berperan sebagai pengendali dan mengurus ekpedisi, sewa apartemen atau gudang. Tersangka Luu Yoo Long berperan sebagai pemasar narkotika di Jakarta dan Surabaya.
"Pembelinya salah satunya adalah Abdurahman Imam (DPO), Sigit Pamungkas dan Petrus," katanya.
Berdasarkan data tersebut, Sat Res Narkoba melakukan pembuntutan terhadap jaringan ini dan menangkap Cheong di Apartemen Central Park Tanjung Duren.
"Setelah itu pengembangan ke Surabaya untuk menangkap Sigit dan Petrus saat menerima narkoba jenis sabu seberat 12 Kilogram. Saat ini masih dilakukan pengembangan yang itensif untuk mengungkap jaringan ini," paparnya.
Atas perbuatannya para pelaku diancam pasal 114 tentang narkotika.
"Pasal yang dipersangkakan terhadap para tersangka adalah pasal 114 sub 112 sub 132 Undang-Undang No.35 Tahun 2009 tentang narkotika," tutupnya. [rok]
Dokter: Jasad Mirna Sempat Diawetkan
INILAHCOM, Jakarta - Dokter Forensik dan Ahli Toksikologi RSCM Budi Sampurno sempat kesulitan melakukan autopsi karena jasad Wayan Mirna Salihin sempat diawetkan dan pihak keluarga keberatan.
"Orang keracunan sianida dan meninggal pemeriksaannya harus 1x24 jam. Karena sianida cepat menguap," ujar Budi saat memberikan kesaksian dalam sidang ke-16 kasus Mirna di PN Jakarta Pusat, Rabu (31/8/2016).
Di samping itu, saat Jaksa Penuntut Umum (JPU) menanyakan kebenaran ditemukan sisa sianida meski jasad mirna sudah terbaring selama empat hari. Budi mengamini adanya barang bukti sianida di lambung Mirna.
"Dari sekian lama masih ada. Logikanya seperti itu (masih ada sianida)," pungkasnya. [rok]
Polda Periksa 3 Saksi Kasus Pengeroyokan Andrew
INILAHCOM, Jakarta - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono mengatakan pihaknya telah memeriksa tiga saksi terkait laporan pengeroyokan terhadap Andrew Budikusuma di dalam bus TransJakarta.
"Ya betul Andrew sudah lapor. Dan penyidik sudah periksa tiga saksi. Korban dan dua sekuriti," kata Awi di Jakarta, Rabu (31/8/2016).
Ia juga menyebut penyidik sudah mengamankan rekaman CCTV tindakan pengeroyokan Andrew di halte Transjakarta koridor JCC Senayan. "Penyidik sudah sita bukti cctv di dalam bus depan JCC," jelasnya.
Dari rekaman CCTV itu, Awi mengaku memang terdapat gambaran aksi pemukulan dar sejumlah kepada Andrew. Namun ia belum bisa memberikan penjelasan resmi sebelum bukti itu diolah puslabfor.
"Jadi kemaren secara visual ada gambaran kegiatan pelaku pemukulan pengeroyokan. Kita tetap serahkan ke digital forensik puslabfor untuk dianalisa...kita sudah minta tinggal tunggu hasil," jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, Andrew Budikusuma korban pengeroyokan oleh orang tak dikenal di dalam Bus Transjakarta akhirnya melaporkan kejadian yang menimpanya ke Polda Metro Jaya, Selasa (30/8/2016).
Saat melapor Andrew juga menceritakan kronologi pemukulannya. Menurutnya kejadian tersebut terjadi pada Jumat (26/8/2016) sekitar pukul 20.30 WIB lalu.
Saat itu dia tengah menaiki bus Transjakarta dari Kuningan menuju ke Semanggi.
Setibanya bus tersebut di Halte Semanggi, ada sekitar 3-4 orang menaiki bus yang ditumpangi Andrew sambil berteriak menyebut nama Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.
"Mereka provokasi dengan nada-nada nanya saya nunjuk saya 'Lu Ahok bukan, Lu Ahok bukan' trus salah satu juga katain 'mau pilih merem atau sipit?'" katanya di Polda Metro Jaya, Selasa (30/8/2016).
Setelah itu, salah satu dari mereka juga merangkul Andrew dari belakang sebelah kiri. Dan tepat di Halte Senayan JCC Andrew ditarik keluar dan dikeroyok.
"Itu bener-bener apes sih, maksudnya saya nggak bawa HP waktu itu ketinggalan. Mau gimana lagi? Yaudah yang penting selamet," katanya.
Andrew menjelaskan, kondisi bus waktu memang tidak terlalu rame, tapi orang yang ada di dalam tidak berani memberikan pertolongan.
"Ramenya tidak terlalu sesak ya. Tapi ada beberapa orang. Tapi ya kebanyakan usia-usia lanjut jadi nggak berani juga karena orang-orang yang mereka hadapi sebaya sama mas-mas ini (mengarah ke pewarta berumur di bawah 30 tahun) gitu loh," jelasnya.
Meski demikian ia mengaku ada satu orang yang akhirnya membantu menariknya kembali ke dalam bus pascaaksi pengeroyokan.
"Yang nolongin saya yang saya inget satu sih. Tepat pas narik itu," katanya.
Andrew mengaku sempat melakukan sedikit perlawanan saat pengeroyokan itu. Andrew lindungi dirinya dengan sebuah botol. Ia menggunakan botol itu untuk memukul salah satu pelaku.
"Saya bales pakai botol mereka baru takut. Saya balesnya pakai botol You C 1000, yang kaca. Kebetulan saya beli itu karena butuh duit kecil dan mau naik angkot lagi. Jadi saya bawa-bawa, dan kebetulan pas dipukulin gimana cara saya bisa lepas tau dah yang didekat saya saya ambil," jelasnya.
Ia pun menyebut para pelaku tidak menyebutkan asal usul atau apa alasan pengeroyokan terhadapnya.
"Nggak ada ngaku-ngakunya. Tapi pas saya masuk saya pikir bercandaan. 'Ahok ya ahok ya'. Saya pikir guyonan biasa tapi pas mereka lihatin saya. Ah saya jadi target," jelasnya.
Andrew menjelaskan orang yang mengeroyoknya berjumlah 4 orang dengan rentang usia kira-kira 20-30 tahun.
"Salah satu dari mereka saya inget ada yang pakai batik. Tapi saya yakin mereka pasti pekerja, karena di daerah Semanggi," katanya.
Ia menjelaskan, pasca-pengeroyokan itu, sudah melakukan pemeriksaan untuk mendapatkan hasil visum. Menurutnya, ada pembengkakan di telinga kanan.
"Mungkin kalau dilihat dari kuping sebelah kanan, ada benjolan tadi sudah divisum. Tapi hasilnya belum keluar. Jumat malam dipukul. Sabtu saya nggak bisa bergerak saya istirahat di kosan saya. Hari Minggu nggak bisa laporan," ungkapnya.
Ia pun mengatakan petugas bus yang dinas hari itu pun tidak memberinya pertolongan. Petugas malah menganggap Andrew ikut perkelahian.
"Jadi saya seakan-akan disuruh berantem juga di halte berikutnya sama para pelaku. Sedangkan itu nggak masuk akal ya. Mereka berempat sedangkan saya sendiri. Dan itu insecure sih," katanya.
Ia pun mengaku tidak pernah menanggapi cibiran yang diterimanya dari para pelaku. Andrew tidak ingin memicu perkelahian.
"Saya nanggepin tapi nanggepinnya maaf saya ga mau cari masalah. Sebisa mungkin saya nggak mau berantem tapi mereka pengen berantem, tapi targetnya saya," katanya. [rok]
Bayi Merah Ditemukan Di Truk Sampah
INILAHCOM, Jakarta - Warga Grogol digegerkan dengan penemuan sesosok bayi yang masih merah dengan ari-ari belum terpotong di tas plastik warna putih.
Bayi malang tersebut ditemukan di atas truk sampah pada saat sang supir bernama Husaen (36) sedang menunggu muatan sampah di Pasar Tomang Barat (Pasar Kopro) Rt 014/05 Grogol Petamburan Jakarta Barat.
Kanit Reskrim Polsek Tanjung Duren AKP Antonius menjelaskan pada saat itu seorang pemulung bernama Saeni (51) warga Duri Kepa sedang mencari barang bekas di atas truk sampah di TKP.
"Kemudian ia melihat sebuh tas plastik warna merah dilapis tas plastik warna putih," kata Antonius di Jakarta Barat Rabu (31/8/2016).
Antonius menambahkan, pemulung tersebut terkaget lantaran pada saat dibuka plastik tersebut berisikan bayi yang sudah meninggal dunia.
"Saksi langsung melaporkan kejadian tersebut ke sang sopir dan warga sekitar," ujarnya.
Polisi yang mengetahui kejadian itu, langsung melakukan olah TKP dan membawa jenazah ke RSCM guna dilakukan autopsi. [rok]
Hari Pertama Ganjil Genap Terjadi 348 Pelanggaran
INILAHCOM, Jakarta - Kasubdit Bin Gakum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto mengatakan hari pertama diberlakukan sistem ganjil genap terjadi 348 pelanggaran.
"Hasil giat penindakan tilang pada koridor atau kawasan ganjil-genap 30 Agustus 2016 total keseluruhan penindakan mencapai 348 pelanggaran," katanya di Jakarta, Rabu (31/8/2016).
Dari total 348 itu, Polisi ikut menyita sejumlah barang bukti berupa Surat Izin Mengemudi (SIM) dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).
"Barang bukti yang ditindak SIM sebanyak 189, dan STNK sebanyak 159," jelasnya.
Ia menjelaskan total 348 pelanggaran tersebut didapati oleh masing-masing kesatuan. "Dari Subdibin Gakkum 288, Sat Gatur 39, dan dari PJR 21," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, pembatasan kendaraan sistem ganjil-genap adalah mekanisme pengurangan kemacetan pengganti sistem 3 in 1.
Sebelum resmi diberlakukan per 30 Agustus 2016, sistem ini sudah diuji coba sejak tanggal 27 Juli - 26 Agustus 2016. [rok]
Pengacara Jessica Tuding JPU Tutupi Saksi
INILAHCOM, Jakarta - Sidang tewasnya Wayan Mirna Salihin akan digelar kembali di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (31/8/2016).
Dalam sidang ke-16 ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) berencana meghadirkan tiga orang saksi. Yakni, Budi Sampurna yang diketahui sebagai Dokter Forensik RSCM, Kriminologi UI Ronny Nitibaskara, dan Guru Besar Psikologi UI Sarlito Wirawan.
Kendati demikian ihwal tersebut hanyalah sesuai informasi yang dihimpun di lapangan.
Sementara itu, pengacara Jessica Kumala Wongso Hidayat Boestam mengungkapkan hingga saat ini belum mendapat informasi siapa saja saksi yang akan dihadirkan oleh JPU dalam sidang terkait tewasnya Mirna akibat menyeruput es kopi Vietnam.
Menurut Boestam, pihak JPU terkesan menutup-nutupi saksi yang akan disiapkan dalam setiap persidangan yang menyeret kliennya.
"Ditutup-tutupi kalau betul kita fokus pelajari BAP nya," pungkasnya. [rok]
Ketakutan Dikejar, Pejambret Tabrak Trotoar
INILAHCOM, Jakarta - Bermaksud melarikan diri usai menjambret, seorang pria M. Aga Kartanegara (19) nyaris tewas lantaran sepeda motornya terpental akibat menabrak trotoar di Jl. Cempaka Wangi III, Kemayoran, Jakarta Pusat.
Kasubag Humas Polres Metro Jakarta Pusat Kompol Suyatno menuturkan kejadian tersebut bermula dari Febby Merlin (17) bersama sang kakak Kurnia Lestari (21) sedang mengendarai sepeda motor. Saat tiba di TKP dipepet Aga lalu menarik telepon seluler yang saat itu sedang dipegang oleh Merlin.
"Setelah lari korban langsung menguber sambil berteriak rampok rampok," ujar Suyatno, Rabu (31/8/2016).
Diduga ketakutan, pemuda putus sekolah ini pun kehilangan keseimbangan sehingga sepeda motor yang ditumpanginya oleng lalu menubruk trotoar di TKP.
"Pelaku lalu ditangkap massa dan dihakimi warga. Kini masih diperiksa petugas," pungkasnya. [rok]
Penjual Hewan Kurban Sulit Dapatkan Rumput Segar
INILAHCOM, Jakarta - Para penjual hewan kurban di Jakarta Barat mengeluhkan sulitnya mendapat pakan hewan kurban yang dijualnya lantaran hujan yang mengguyur.
Salah satu penjual hewan kurban bernama Berri (58) mengaku harus mengambil pakan jenis rumput, daun nangka dan rambutan di daerah Bogor guna mendapatkan pakan yang segar dan hijau.
"Kita mau enggak mau nyari empan kambing ke luar daerah seperti Bogor, padahal kan di sekiling kita masih banyak juga rumput-rumput yang masih hijau. Soalnya di sini ujan terus," kata Berri yang berjualan hewan kurban di jalan Lapangan Bola, Kebon Jeruk, Jakarta Barat (30/8/2016).
Selain itu sulit mendapatkan pakan hewan, jenis kambing jawa yang dijualnya mudah terserang penyakit pada saat musim penghujan.
"Kambing kita mudah sakit mas akibat kedinginan dan kekurangan pakan, makanya di kandang kita enggak kasih air minum karena kan rumput dan dedaunan mengandung zat air," ungkapnya.
Meski demikian, Berri mengaku selalu melakukan pengecekkan kesehatan melalui berbagai vitamin melalui alat suntik.
"Kita juga suntik itu kambing-kambing kita, dan juga tadi ada kunjungan dari 8 orang dari Suku Dinas Kelautan, Pertanian, dan Ketahanan Pangan (KPKP) Jakarta Barat untuk ngecek kesehatan kambing kita dan alhmdulillah kambing kita dinyatakan sehat," ujarnya. [ton]
Gasak Uang Rp40 Juta, Warga Serang Ditangkap
INILAHCOM, Jakarta - Unit Reskrim Polsek Tambora menangkap pencuri berinisial JN (23) warga Serang yang beraksi di sebuah toko sembako milik Udin Dimyati di Pasar Mitra Jembatan lima, Tambora, Jakarta Barat.
Kapolsek Tambora Kompol Muhammad Syafi'i menjelaskan saat itu toko milik korban sedang tidak orang. "Melihat toko sedang dalam keadaan lengang, pelaku langsung masuk ke dalam toko mengambil uang sebesar Rp40 juta yang terbungkus plastik dari lemari kecil yang ada di toko," kata Syafi'i, Selasa (30/8/2016).
Syafi'i menambahkan, uang tersebut langsung dibawa ke rumah kos rekannya yang bernama Alexander (32) di Tambora.
"Uang tersebut digunakan untuk berfoya foya di tempat hiburan malam, makan, dan beli pakaian hingga uangnya habis," ujarnya.
Kini pelaku harus mendekam di Mapolsek Tambora guna dilakukan proses penyelidikkan berikut barang bukti berupa 2 buah celana panjang, 1 buah kaos dan 1 buah kemeja.
Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 362 KUHP tentang pencurian dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara. [ton]
Hujan, Ruas Jl Srengseng Tergenang
INILAHCOM, Jakarta - Hujan deras yang mengguyur sebagian wilayah DKI Jakarta mengakibatkan beberapa ruas jalan tergenang. Salahsatunya di Jl Raya Srengseng depan SDN 05 Srengseng, Jakarta Barat.
Kondisi tersebut menjadikan arus lalu lintas tersendat. Pasalnya, sejumlah kendaraan yang melintas terpaksa memperlambat kendaraannya.
Dari pantauan INILAHCOM, genangan air di ruas jalan tersebut mencapai ketinggian 20-30 sentimeter. Bahkan beberapa kendaraan menghentikan laju kendaraannya lantaran khawatir mogok.
Namun ada juga yang tetap memaksa menerobos genangan air di jalur tersebut. Beberapa petugas kepolisian juga terlihat membantu kendaraan yang terjebak dan mogok. [ton]
Pura-Pura Shalat, Pria Asal Banjarnegara Curi HP
INILAHCOM, Jakarta - Terdesak kebutuhan ekonomi seorang kuli panggul bernama Mujiono (56), nekat menggasak telepon seluler milik jamaah yang sedang menunaikan shalat di salah satu Masjid di Jl. Kalilio, Senen, Jakarta Pusat.
Kejadian tersebut bermula dari korban bernama Johari (49) tengah menyimpan telepon seluler dan dompet di atas tas miliknya lalu menunaikan ibadah solat. Kemudian datang Mujiono di samping korban dan berpura-pura solat.
Disaat korban sedang beribadah, pria asal Banjarnegara, Jawa Tengah itu langsung menggondol dompet dan telepon seluler milik korban.
"Setelah itu (mencuri dompet dan telepon seluler) pelaku langsung kabur," tutur Kapolsek Senen Kompol Kasmono, Selasa (30/8/2016).
Menurut Kasmono, meski sempat melarikan diri namun Johari yang saat itu mendapati telepon seluler dan dompet miliknya telah raib langsung mencurigai
Mujiono lah pelakunya mengingat pelaku telah menghilang secara tiba-tiba.
"Kemudian korban keluar mencari dan akhirnya pelaku ditemukan tak jauh dari lokasi," tandasnya.
Setelah itu, lanjut Kasmono, warga yang saat itu kesal dengan pelaku langsung menghakimi Mujiono hingga babak belur.
Beruntung nyawa pria yang setiap harinya bekerja sebagai kuli panggul di Pasar Senen tersebut berhasil dievakuasi petugas yang saat itu sedang berpatroli di sekitar lokasi.
"Pelaku mengaku terdesak kebutuhan ekonomi karena punya anak empat orang. Saat ini pelaku masih diperiksa lagi oleh anggota karena baru ditangkap," pungkasnya. [ton]
Hujan Sebentar, Sebagian Ruas Jalan Tergenang
INILAHCOM, Jakarta - Meski hanya diguyur hujan selama satu jam, namun sejumlah genangan air sudah terlihat di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Ini terlihat di Gedung Balai Budaya, Jl Gereja Theresia, Menteng, Jakarta Pusat.
"Setiap kali hujan Balai Budaya pasti digenangi airi," kata Syahnagra, salah satu pengurus Balai Budaya, Selasa (30/8/2016).
Sementara itu, kondisi yang sama pun terjadi di sepanjang Jl. Ir H Juanda III, Gambir. Namun air hujan yang menggenang kawasan tersebut sudah berangsur surut.
"Tadi sekitar 20 cm. Paling nanti jam 6 (18:00 WIB) nanti sudah kering lagi airnya. Soalnya disini biasanya begitu tergenang paling sebentar saja," tandasnya. [ton]
219 Pengendara Langgar Aturan Ganjil-Genap
INILAHCOM, Jakarta - Hari pertama penindakan pembatasan kendaraan sistem ganjil-genap tercatat ada 219 pengendara yang melakukan pelanggaran. Hal ini dikatakan oleh Kepala Subdit Bin Gakkum Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, AKBP Budiyanto.
"Hasil penindakan dengan tilang dalam kaitan pembatasan kendaraan sistem ganjil-genap hari ini pada pukul 07.00-10.00 WIB, total ada 219 pelanggar yang kami tindak," katanya, Selasa (30/8/2016).
Ia menjelaskan, pelanggaran paling banyak terjadi di Traffic Light (TL) Bundaran Senayan sebanyak 15 pelanggar. Kemudian di Ramp Senayan, 13 pelanggar yang ditilang.
Pelanggaran juga terjadi di TL Oteva (6 pelanggar), TL Bundaran Indosat (8 pelanggar), TL Kebon Sirih 1 pelanggar, TL Sarjnah 2 pelanggar, TL Bundaran HI (3 pelanggar), TL CSW (4 pelanggar) dan ramp Cakra (6 pelanggar).
"Dari para pelanggar ini ada yang disita SIM (Surat Izin Mengemudi) sebanyak 144 dan STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan) sebanyak 93," ujarnya.
Menurutnya para pelanggar dikenakan Pasal 287 UU Lalu Lintas Angkutan Jalan dengan ancaman pidana 2 bulan, atau denda maksimal Rp500 ribu.
"Untuk slip tilangnya ada slip merah dan ada yang minta slip biru. Kalau slip merah berarti pelanggar harus datang sendiri ke pengadilan, kalau slip biru denda tilang maksimal dititip ke bank BRI," tambahnya.
Diiketahui sebelumnya pembatasan kendaraan sistem ini sudah diujicoba sejak tanggal 27 Juli sampai 26 Agustus 2016. Uji coba diterapkan mulai pukul 07.00 WIB-10.00 WIB dan 16.00 WIB-20.00 WIB di jalanan bekas kawasan 3 in 1 yaitu Jalan Sisingamangaraja, Jalan Sudirman, Jalan MH Thamrin, Jalan Medan Medan Merdeka Barat dan sebagian Jalan Gatot Subroto. [ton]
Kronologi Pengeroyokan Andrew di Transjakarta
INILAHCOM, Jakarta - Andrew Budikusuma korban pengeroyokan oleh orang tak dikenal di dalam Bus Transjakarta akhirnya melaporkan kejadian yang menimpanya ke Polda Metro Jaya.
Saat melapor Andrew juga menceritakan kronologi pemukulannya. Menurutnya kejadian tersebut terjadi pada Jumat (26/8/2016) sekitar pukul 20.30 WIB lalu.
Saat itu dia tengah menaiki bus Transjakarta dari Kuningan menuju ke Semanggi.
Setibanya bus tersebut di Halte Semanggi, ada sekitar 3-4 orang menaiki bus yang ditumpangi Andrew sambil berteriak menyebut nama Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.
"Mereka provokasi dengan nada-nada nanya saya nunjuk saya 'Lu Ahok bukan, Lu Ahok bukan' trus salah satu juga katain 'mau pilih merem atau sipit?'" katanya di Polda Metro Jaya, Selasa (30/8/2016).
Setelah itu, salah satu dari mereka juga merangkul Andrew dari belakang sebelah kiri. Dan tepat di Halte Senayan JCC Andrew ditarik keluar dan dikeroyok.
"Itu bener-bener apes sih, maksudnya saya nggak bawa HP waktu itu ketinggalan. Mau gimana lagi? Yaudah yang penting selamet," katanya.
Andrew menjelaskan, kondisi bus waktu memang tidak terlalu rame, tapi orang yang ada di dalam tidak berani memberikan pertolongan.
"Ramenya tidak terlalu sesak ya. Tapi ada beberapa orang. Tapi ya kebanyakan usia-usia lanjut jadi nggak berani juga karena orang-orang yang mereka hadapi sebaya sama mas-mas ini (mengarah ke pewarta berumur di bawah 30 tahun) gitu loh," jelasnya.
Meski demikian ia mengaku ada satu orang yang akhirnya membantu menariknya kembali ke dalam bus pascaaksi pengeroyokan.
"Yang nolongin saya yang saya inget satu sih. Tepat pas narik itu," katanya.
Andrew mengaku sempat melakukan sedikit perlawanan saat pengeroyokan itu. Andrew lindungi dirinya dengan sebuah botol. Ia menggunakan botol itu untuk memukul salah satu pelaku.
"Saya bales pakai botol mereka baru takut. Saya balesnya pakai botol You C 1000, yang kaca. Kebetulan saya beli itu karena butuh duit kecil dan mau naik angkot lagi. Jadi saya bawa-bawa, dan kebetulan pas dipukulin gimana cara saya bisa lepas taudah yg didekat saya saya ambil," jelasnya.
Ia pun menyebut para pelaku tidak menyebutkan asal usul atau apa alasan pengeroyokan terhadapnya.
"Nggak ada ngaku-ngakunya. Tapi pas saya masuk saya pikir bercandaan. 'Ahok ya ahok ya'. Saya pikir guyonan biasa tapi pas mereka lihatin saya. Ah saya jadi target," jelasnya.
Andrew menjelaskan orang yang mengeroyoknya berjumlah 4 orang dengan rentang usia kira-kira 20-30 tahun.
"Salah satu dari mereka saya inget ada yang pakai batik. Tapi saya yakin mereka pasti pekerja, karena di daerah Semanggi," katanya.
Ia menjelaskan, pasca pengeroyokan itu, sudah melakukan pemeriksaan untuk mendapatkan hasil visum. Menurutnya, ada pembengkakan di telinga kanan.
"Mungkin kalau dilihat dari kuping sebelah kanan, ada benjolan tadi sudah divisum. Tapi hasilnya belum keluar. Jumat malam dipukul. Sabtu saya nggak bisa bergerak saya istirahat di kosan saya. Hari Minggu nggak bisa laporan," ungkapnya.
Ia pun mengatakan petugas bus yang dinas hari itu pun tidak memberinya pertolongan. Petugas malah menganggap Andrew ikut perkelahian.
"Jadi saya seakan-akan disuruh berantem juga di halte berikutnya sama para pelaku. Sedangkan itu nggak masuk akal ya. Mereka berempat sedangkan saya sendiri. Dan itu insecure sih," katanya.
Ia pun mengaku tidak pernah menanggapi cibiran yang diterimanya dari para pelaku. Andrew tidak ingin memicu perkelahian.
"Saya nanggepin tapi nanggepinnya maaf saya ga mau cari masalah. Sebisa mungkin saya nggak mau berantem tapi mereka pengen berantem, tapi targetnya saya," katanya.[jat]
Korban Pengeroyokan Sesali Respon Petugas TransJ
INILAHCOM, Jakarta - Andrew Budikusuma korban pemukulan oleh orang tak dikenal di dalam Bus Transjakarta menyesali respon petugas bus yang terkesan lepas tangan atas kejadian yang menimpanya itu.
"Petugas Transjakarta tidak responsif dan tidak menyuruh saya untuk membuat laporan," katanya, Selasa (30/8/2016).
Andrew pun mengaku sudah menghubungi pihak Transjakarta mengenai adanya CCTV yang merekam kejadian tersebut di halte JCC. Namun, pihak Transjakarta meminta Andrew membawa surat keterangan dari pihak kepolisian untuk meminta rekaman CCTV tersebut.
"Saya sudah menghubungi pihak Transjakarta, mereka mengatakan dir ekaman CCTV memang ada kejadian itu, namun saya diminta untuk membuat laporan kepolisian terlebih dahulu," ujarnya.
Diketahui sebelumnya, Andrew Budikusuma menjadi korban pemukulan oleh orang tak dikenal di dalam Bus Transjakarta. Selain dipukul, Andrew juga mendapat kata-kata rasis dari orang tak dikenal tersebut.
Andrew menceritakan, kejadian tersebut terjadi pada Jumat (26/8/2016) sekitar pukul 20.30 WIB lalu. Saat itu dia tengah menaiki bus Transjakarta dari Kuningan menuju ke Semanggi.
Setibanya bus tersebut di Halte Semanggi, ada sekitar 3-4 orang menaiki bus yang ditumpangi Andrew sambil berteriak menyebut nama Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Kemudian orang tersebut datang menghamipiri Andrew sambil berkata rasis dan mengajak berkelahi lalu tiba-tiba memukulnya.
"Kejadian pemukulan terjadi persis antara pintu bus dan halte. Saya sudah ada di bus, saya naik dari Kuningan, kemudian para pelaku naik dari Semanggi kemudian pukul saya dan turun di halte JCC," ujar Andrew.
Andrew mengungkapkan, dia sudah berusaha mengelak ajakan berkelahi dari orang yang tak dikenal tersebut. Namun mereka tetap saja memukul andrew di bagian kepala dan bibirnya.
Selain itu, orang tersebut juga berusaha menariknya keluar dari dalam bus. Beruntung, ada salah satu penumpang yang menolongnya dengan menarik Andrew ke dalam bus kembali.
"Yang luka bagian atas dan bawah bibir saya dan yang masih berbekas benjolan-benjolan kecil di kepala saya," ucapnya.
Setelah melakukan pemukulan orang tak dikenal tersebut menurut Andrew langsung turun di halte JCC. Andrew pun tak sempat mengenali orang tersebut karena menurut dia kejadiannya begitu cepat. Dia hanya mengingat orang tak dikenal tersebut menggunakan baju batik. [ton]
Pohon Tumbang Timpa Taksi di Hotel Milenium
INILAHCOM, Jakarta - Hujan yang mengguyur ibu kota disertai angin kencang selama satu jam tak hanya meninggalkan genangan di sepanjang ruas jalan. Namun pohon pun ikut tumbang bersamaan dengan datangnya hujan.
Akibatnya, sebuah taksi pun tertimpa pohon palem disaat sedang terparkir di Hotel Milenium tepatnya Jl. Fachrudin, Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
"Alhamdulillah pas hujan saya lagi berteduh di halaman hotel sambil tunggu penumpang," ujar Trimaizon, pengemudi taksi yang kendaraanya terkena pohon tumbang, kepada wartawan Selasa (30/8/2016).
Kondisi yang sama pun terjadi di depan stasiun pengisian bahan bakar gas (BBG) tepatnya di Jl. Medan Merdeka Selatan, Gambir. Namun beruntung tidak ada kendaraan ataupun orang yang berada disekitar lokasi saat tumbangnya pohon disekitar lokasi tersebut.
"Pohon itu sudah tua sekarang sudang ditangani PPSU," tutur Lurah Gambir Abdul Salam. [ton]
Dikeroyok di Bus Transjakarta, Andrew Lapor Polisi
INILAHCOM, Jakarta - Andrew Budikusuma korban pengeroyokan oleh orang tak dikenal di dalam Bus Transjakarta akhirnya melaporkan kejadian yang menimpanya ke Polda Metro Jaya.
Andrew mengaku pada awalnya ingin membiarkan kasus ini berlalu dan tidak berniat membuat laporan. Tapi, langkah ini diambil untuk memenuhi permintaan pihak Transjakarta yang menyarankan Andrew melakukan laporan ke pilhak kepolisian.
"Awalnya saya kan pasrahin saja kan. Kemudian menghubungi hotline di Transjakarta soal rekaman pengeroyokan di Senayan JCC. Saya beri tahu detailnya, lalu disuruh bikin laporan. Dari trans ada rekamnnya, karena saya nggak inget nopol dan petugasnya," jelasnya.
Untuk melapor ke Polda, Andrew mengaku membawa barang bukti berupa hasil pemeriksaan atau visum dari Rumah Sakit.
"Buktinya visum sama bukti saya berobat di hari Jumat. Rekaman CCTV belum katanya dari pihak berwenang yang mau urus. Hasil visum belum keluar," katanya.
Andrew pun berharap Polda Metro dapat menindaklanjuti kasus ini untuk mengetahui apa motif pengeroyokan oleh empat orang ini.
"Harapannya bisa ditangkap ya. Dan semoga tau motifnya. Saya pikir awalnya mabok tapi nggak kecium bau alkoholnya, jadi alasannya apa? Apa maksudnya? Beberapa teman saya ada yang bilang ini korban sakit hati. Saya ingin tahu motifnya dulu dan apa yang bisa mereka pertanggubgjawabkan," jelasnya.
Selain mencari motif, Polisi juga diharapkan dapat menangkap pelaku dan membuat pelaku meminta maaf ke keluarga Andrew yang berada di luar Jakarta.
"Kalau dari ortu ya pengennya damai aja. Kalau dari saya mereka harus tanggungjawab, minta maaf sama keluarga saya juga. Karena keluarga saya panik karena di luar Jakarta," jelasnya.[jat]
Nopol Palsu, Kendaraan akan Disita Polisi
INILAHCOM, Jakarta - Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol Syamsul Bahri mengimbau pengendara agar tidak memalsukan plat nomor kendaraan untuk mengelabui petugas sehingga dapat melintas di jalur ganjil genap.
Sebab, pihaknya akan membawa ihwal tersebut ke ranah hukum apabila dengan sengaja menggunakan plat palsu. Lantaran melanggar Undang-Undang Lalu Lintas Nomor 22 Tahun 2009.
"Jadi pemalsuan kita pidanakan itu ranah pidana kurungannya enam tahun," kata Syamsul saat bertandang ke kawasan Silang Monas, Jakarta Pusat, Selasa (30/8/2016).
Syamsul menambahkan, selain dikenakan sanksi pidana dan tilang kendaraan yang kedapatan dipalsukan plat nomornya akan disita oleh petugas.
"Jangan coba-coba bermain-main dengan pemalsuan," tandasnya.[jat]
Berkas Korupsi RTH Sudin Jaktim Batal Dilimpahkan
INILAHCOM, Jakarta - Kasubidt V Korupsi Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, AKBP Ferdy Irawan mengatakan, berkas perkara korupsi pemeliharaan Ruang Terbuka Hijauh (RTH) Sudin Pertamanan dan Pemakaman Jakarta Timur batal dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi DKI.
"Pelimpahan berkas yang rencananya digelar hari ini batal dikarenakan salah satu tersangka TS masih dirawat di Rumah Sakit," katanya di Mapolda Metro Jaya, Selasa (30/8/2016).
Ia menjelaskan, kasus korupsi di Sudin Pertamanan Jakarta Timur ini merupakan hasil penyelidikan tim Subdit V Korupsi Direktorat Reserse Kriminal Khusus di lapangan.
Selain itu kasus ini juga muncul atas kecurigaan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang melihat adanya ketidakberesan dalam pengelolalaan ruang terbuka hijau di Jakarta Timur.
“Kami telah berkordinasi dengan Jaksa soal pelimpahan kasus ini, dan penyerahan tersangka akan dilakukan setelah kondisi tersangka TS membaik, dan akan segera dilimpahkan," ungkapnya.
Sebelumnya, Subdit V Korupsi Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, menangani perkara yang diduga merupakan tindak pidana korupsi terkait kegiatan Pemeliharaan RTH pada Sudin Pertamanan dan Pemakaman Kota Administrasi Jakarta Timur Tahun Anggaran 2015 dengan Pagu Anggaran sebesar Rp70.563.012.000 (Tujuh puluh milyar lima ratus enam puluh tiga juta dua belas ribu rupiah) untuk 1 tahun anggaran 2015 (Januari-Desember 2015).
Pelaksanaan kegiatan tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 sebagaimana diubah dengan Pepres Nomor 70 Tahun 2012 tentang pedoman pengadaan barang dan jasa pemerintah.
Dari kasus ini, Subdit V Ditreskrimsus Polda Metro Jaya telah menetapkan dua orang tersangka, yakni MR (Pejabat Pembuat Komitmen) yang juga menjabat sebagai Kepala Sudin Pertamanan Pemerintah Kota Jakarta Timur, dan TS yang berperan sebagai perekrutan pekerja fiktif.
Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Kombes Pol Fadil Imran, mengatakan Modus Operandinya adalah adanya kerjasama antara PPK (tersangka M.R) dengan tersangka T.S dalam perekrutan pekerja Fiktif dan PPK (tersangka M.R) membuat Surat Perjanjian Kerja Pekerja Harian Lepas (PHL) dengan tanggal mundur.
Setelah adanya pemeriksaan dan pengecekan PHL dilokasi ditemukan adanya pekerja Fiktif yang menerima gaji serta PPK (tersangka M.R) menerima sejumlah uang hasil pekerja fiktif dari tersangka TS.
Selanjutnya, tersangka MR menampung uang bayaran PHL dengan membuatkan buku rekening bank DKI beserta atm yang disimpan tersangka, sehingga uang gaji yang turun dari pemrov DKI langsung ditampung oleh tersangka, sementara pekrja yang sempat diminta data dan KTP saat pembukaan rekenin hanya diberikan imbalan uang 200 ribu per orang selama 3 bulan berturut-turut.
Berdasarkan hasil audit BPKP Perwakilan Prov. DKI Jakarta terdapat Kerugian Negara sebesar Rp12.059.011.250,- (Dua belas milyar lima puluh sembilan juta sebelas ribu dua ratus lima puluh rupiah.
Saksi-saksi yang telah diperiksa sebanyak 68 orang, diantaranya Sudin Pertamanan dan Pemakaman Kota Administrasi Jakarta Timur 8 (delapan) orang, Ahli 3 (tiga) orang ; (1 orang Ahli LKPP, 1 orang Ahli Pidana dan 1 orang Ahli penghitungan Kerugian Negara/ BPKP Prov. DKI Jakarta), Koordinator/ Pengawas PHL 19 (sembilan belas) orang, PHL pekerja 16 (enam belas) orang, PHL fiktif 22 (dua puluh dua) orang.
Selain itu juga, tim Subdit V Korupsi Ditreskrimsus Polda Metro Jaya telah melakukan penyitaan Barang Bukti berupa; SK Jabatan ,dokumen kontrak, dokumen pembayaran, buku tabungan dan ATM Bank DKI serta uang tunai sebesar Rp308.000.000,-.
Pasal yang dilanggar tersangka yakni: Pasal 2, Pasal 3 UU RI No. 31 Tahun 1999 sebagaimana telah di ubah UU RI No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.[jat]
Pengendara Wanita Kesal Dikerumuni Awak Media
INILAHCOM, Jakarta - Dikerumuni petugas polantas, Dishub, dan awak media, seorang wanita bernama Ade Tantre Puspita menunjukan kekesesalannya di Bundaran Patung Kuda, Jl. Medan Merdeka Barat, Gambir, Jakarta Pusat.
Kemarahan itu bermula dari mobil yang dikendarai Puspita ditilang oleh petugas polisi dari Ditlantas Polda Metro Jaya di TKP. Kemudian, wanita berumur 35 tahun itu merasa takut dan heran lantaran mobilnya dikerumuni petugas dan awak media sehingga membuatnya kesal dan marah.
"Saya gak mau, emang saya salah apa," cetus Puspita yang saat itu mengendarai mobil Nopol B 15 ADE, Selasa (30/8/2016).
Beranjak dari kondisi tersebut, seorang polantas langsung berusaha menjelaskan terkait penindakan sistem ganjil genap yang diberlakukan semenjak hari ini.
Puspita membuka kaca pintu mobilnya lalu menyerahkan STNK dan SIM. Setelah itu petugas memberikan surat merah yang nantinya digunakan Puspita untuk mengambil SIM di PN Jakarta Pusat.
Setelah berlangsung uji coba satu bulan lamanya, Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya dan Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta hari ini resmi melaksanakan penerapan kebijakan ganjil genap.
Adapun pemberlakuan tersebut, diterapkan di Jalan Merdeka Barat, Jalan M.H Thamrin, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Sisingamangaraja, dan sebagian Jalan Jenderal Gatot Subroto, mulai pukul 07:00 WIB-10:00 WIB dan Pukul 16:00 WIB - 20:00 WIB. [rok]
Senin, 29 Agustus 2016
1 Jam Diguyur Hujan Jakpus Dikepung Genangan
INILAHCOM, Jakarta - Hujan mengguyur ibukota selama satu jam membuat sejumlah jalan tergenang. Kondisi tersebut dapat ditelisik dari beberapa titik jalan yang ada di wilayah Jakarta Pusat, Selasa (30/8/2016) siang.
Pantauan INILAHCOM, genangan tersebut terdapat di sepanjang Jl. Ridwan Rais, Jl. Pejompangan, Jl. Bungur, Senen Raya, hingga Jl. Cempaka Putih. Adapun volume genangan pun mulai dari sekitar 10 hingga 30 cm.
Kondisi itu pun membuat sejumlah pengendara terpaksa mengurangi laju kecepatan kendaraannya guna menghindari genangan sehingga menyebabkan kemacetan di sekitar ruas jalan yang digenangi air hujan.
Hingga berita ini diturunkan, wilayah Jakarta Pusat masih diguyur hujan. [rok]
Duduki Gedung Perintis, Puluhan Orang Diamankan
INILAHCOM, Jakarta - Puluhan orang diamankan oleh aparat gabungan dari Polres Metro Jakarta Pusat dan TNI dari lokasi Gedung Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia, di Jl. Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (30/8/2016).
Adapun sejumlah orang yang diketahui dari organisasi masyarakat (ormas) tertentu itu diamankan lantaran dinilai menduduki gedung yang bukan untuk peruntukannya dan saat ini sedang mengikuti proses pemeriksaan di Polres Jakpus.
"Puluhan orang itu diamankan di lantai 6 dan di sekitar gedung," terang Kasubag Humas Polres Metro Jakarta Pusat Kompol Suyatno.
Menurut Suyatno, pihaknya hanya melakukan pendampingan dalam proses penertiban terhadap puluhan orang yang diketahui sudah belasan tahun menduduki gedung tersebut dan rencanaya akan dikembalikan ke fungsinya sesuai dengan kehendak Kementerian Sekretariat Negara (Kemensesneg).
"Ada 238 personel yang kita terjunkan ke lokasi. Gedung itu akan dikembalikan ke fungsinya," pungkasnya. [rok]
Meski Efektif, Ganjil Genap Hanya Sementara
INILAHCOM, Jakarta - Hari ini, sistem ganjil genap resmi berlaku. Denda hingga Rp 500 ribu siap diberikan jika ada yang melanggar.
Meski dinilai efektif mengurai kemacetan, sistem ganjil genap hanya akan berlaku sementara.
"Pemberlakuan sistem ganjil genap hanya bersifat sementara sampai Pemprov DKI menerapkam sistem ERP. Makanya yang paling efektif itu adalah ERP," kata Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Selasa (30/8/2016).
Selain itu, Ahok mengungkapkan penerapan sistem ERP bisa menghasilkan subsidi ke alat transportasi lain, berbeda dengan sistem ganjil genap.
"ERP juga sebetulnya kenapa efektif karena ada duitnya kita subsidi balik ke transport, kalau ini kan nggak ada subsidi baliknya," tambahnya.
Mantan Bupati Belitung Timur itu pun menjelaskan, jika rencana penerapan ERP sudah masuh proses lelang.
Dia memprediksi jika pemberlakukan ERP di kawasan protokol akan bisa dikerjakan tahun depan "Kan udah lelang prosesnya, mungkin tahun depan bisa jalan," pungkasnya. [rok]
Penerapan Ganjil Genap, Pengendara Banyak Lupa
INILAHCOM, Jakarta - Sejumlah pengendara mengaku lupa saat petugas melakukan penindakan lantaran kedapatan melanggar penerapan kebijakan ganjil genap.
"Lupa tanggalnya pak," kata Toni salah satu pengendara mobil Innova nopol B 1311 POB, di kawasan Silang Barat Daya Monas, Selasa (30/8/2016).
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta Andri Yansyah menegaskan pihaknya tetap menindak pengendara yang kedapatan melanggar. Yakni, penahanan SIM kemudian diberikan surat tilang yang nantinya dapat digunakan saat pengambilan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
"Denda Rp 500 ribu itu denda maksimum," tandasnya.
Untuk diketahui, setelah berlangsung uji coba satu bulan lamanya, Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya dan Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta hari ini resmi melaksanakan penerapan kebijakan ganjil genap.
Adapun pemberlakuan tersebut, diterapkan di Jalan Merdeka Barat, Jalan M.H Thamrin, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Sisingamangaraja, dan sebagian Jalan Jenderal Gatot Subroto, mulai pukul 07:00 WIB-10:00 WIB dan Pukul 16:00 WIB - 20:00 WIB. [rok]
Pelanggaran Ganjil Genap, Petugas Diminta Tegas
INILAHCOM, Jakarta - Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Syamsul Bahri mengimbau petugas bertindak humanis saat menindak pengendara yang kedapatan melanggar penerapan kebijakan ganjil genap.
"Tetapi harus tegas dan tidak ada toleransi bagi yang melanggar," ujar Syamsul di Monas, Selasa (30/8/2016).
Penerapan dan penindakan bagi yang kedapatan melanggar penerapan kebijakan ganjil genap tidak menimbulkan kemacetan lantaran arus lalu lintas tergolong lancar.
Untuk diketahui, setelah berlangsung uji coba satu bulan lamanya, Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya dan Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta akhirnya hari ini penerapan kebijakan ganjil genap resmi diberlakukan.
Adapun pemberlakuan tersebut, diterapkan di Jalan Merdeka Barat, Jalan M.H Thamrin, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Sisingamangaraja, dan sebagian Jalan Jenderal Gatot Subroto, mulai pukul 07:00 WIB-10:00 WIB dan Pukul 16:00 WIB - 20:00 WIB. [rok]
Perbedaan Kesaksian Dokter Tak Ubah Fakta Mirna
INILAHCOM, Jakarta - Jaksa Penuntut Umum (JPU) mengakui perbedaan kesaksian dua dokter Rumah Sakit Abdi Waluyo terkait waktu kematian Wayan Mirna Salihin hanyalah perbedaan tafsir.
"Secara surat jam 18:30 WIB," ujar Ardhito, salah satu JPU usai sidang ke-15 kasus tewasnya Mirna, Senin (29/8/2016).
Untuk itu, lanjut Ardhito, perbedaan tafsir tersebut tidak dapat mengubah fakta yang menyatakan bahwa Mirna telah tewas saat ditengah perjalanan menuju rumah sakit usai terkapar akibat menyeruput es kopi Vietnam.
"Secara materil kita yakin korban sudah meninggal di jalan," tuturnya.
Sebelumnya, kuasa hukum Jessica, Otto Hasibuan mempertanyakan keterangan yang disampaikan dua saksi dari Abdi Waluyo. Yakni, Dokter Prima Yudo dan Ardianto.
Mengingat, keterangan Dokter Ardianto terutama dalam resume tertulis Mirna tewas sekitar pukul 18:30 WIB, sedangkan Dokter Prima Yudo mengatakan korban tewas saat perjalanan ke rumah sakit yakni sekitar pukul 18:00 WIB.[jat]
Banjir Kemang, DKI Siap Normalisasi Kali Krukut
INILAHCOM, Jakarta - Dinas Tata Air DKI Jakarta langsung merespon banjir Kemang, Jakarta Selatan Sabtu lalu. Kepala Dinas Tata Air Teguh Hendrawan memastikan akan melakukan normalisasi Kali Krukut.
"Pak gubernur jelas perintahnya Kali Krukut harus di normalisasi bahkan beliau yang sekarang 3 meter, dia minta jadi 20 meter," kata Teguh saat dihubungi, Senin (29/8/2016).
Agar proyek normalisasi berjalan, penertiban dan pembebasan lahan bangunan di bibir kali harus dilakukan.
Pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Tata Kota DKI Jakarta untuk menentukan lokasi-lokasi mana saja yang akan dibongkar.
"Akan dibikin trase dari dinas tata kota lokasi mana yang kena dari penambahan 17 meter tadi ketauan mana yang kena dan enggak. Sisi kanan dan kiri mana aja yang kena, sekian bidang akan ketahuan," terangnya.
Pihaknya menargetkan eksekusi lahan dapat dilakukan tahun depan. Oleh sebab itu, Teguh berharap tahun ini segala urusan administrasi, inventarisasi lahan hingga penawaran kepada warga bisa diselesaikan.
"Mungkin kalau tahun ini belum keburu, kalau pembebasan perlu administrasi, inventarisasi, penerapan lokasi, ukur lagi. Yang saya harapkan tahun ini secara administrasi tuntas tahun depan tinggal bayar," tutupnya.[jat]
Ini Polisi yang Pasok Sabu ke Imam S Arifin
INILAHCOM, Jakarta - Pasca adanya aksi mantan Wakapolsek Kemayoran AKP Jamal Alkatiri yakni diduga menodongkan senjata ke warga beberapa waktu lalu.
Kini anggota lalu lintas yang berdinas di wilayah hukum pimpinan Kapolsek Kemayoran, Kompol Andri Desas Furyanto kembali berulah.
Ironisnya anggota yang diketahui bernama Brigadir Hadi tersebut diketahui sebagai pemasok narkotika terhadap pedangdut Imam S Arifin.
"Ia benar itu anggota Lantas dinias di Polsek Kemayoran," kata Kasat Lantas Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Sudanto saat dikonfirmasi wartawan, Senin (29/8/2016).
Saat dikonfirmasi lanjut terkait kedisiplinan Brigadir Hadi dalam berdinas, Sudanto enggan berkomentar mengingat sedang dintangani Polres Metro Jakarta Barat.
"Tanya saja ke sana (Polsek Kemayoran) soalnya dia dinas di sana," pungkasnya.
Sebelumnya, Imam S Arifin diciduk aparat Polres Metro Jakarta Barat disaat mengantongi sabu di Kamar Nomor 03 Lantai 17 Tower Selatan Apartemen Crysan, Jl. Rajawali Selatan, Gunung Sahari, Jakarta Pusat, Sabtu (27/8/2016).
Saat diinterogasi, aparat mendapat informasi bahwa Imam S Arifin mendapat sabu dari oknum polisi yang belakangan diketahui bernama Brigadir Hadi.
Sehingga, pria yang NRP 77081177 itu berhasil diringkus tiga jam kemudian. Di samping itu, urine Brigadir Hadi pun dinyatakan positif zat amfetamina jenis sabu.[jat]
Sidang Kasus Mirna Selesai Pekan Depan
INILAHCOM, Jakarta - Ardito Muwardi, Jaksa Penuntut Umum (JPU) mengatakan masih diberi kesempatan untuk menghadirkan 10 saksi terkait kasus tewasnya Wayan Mirna Salihin dengan terdakwa tunggal Jessica Kumala Wongso.
"Kalau ahli ada sekitar 5 ahli," ujar Ardito, usai persidangan ke-15 PN Jakpus, Kamis (29/8/2016).
Kendati demikian, Ardito dapat membeberkan saksi berikutnya lantaran belum dapat mengetahui secara pasti siapa saja yang akan dihadirkan dalam sidang kasus kopi yang menewaskan Wayan Mirna Salihin.
"Nanti kita buka buku telfon, buka buku alamat mencari saksi," tuturnya.
Sementara itu, Ardito pun menambahkan sidang kasus Jessica diprediksi akan berakhir pada awal bulan September 2016 mendatang.
"Prinsipnya keterangan ahli menurut fakta perbuatan sudah cukup tergambar, dan sangat meyakinkan kami soal surat tuntutan," tandasnya. [ton]
Terkejut Suara Petir, Pengendara Motor Tewas
INILAHCOM, Jakarta - Seorang pengendara sepeda motor bernama Diva Oby Oktaliando (18) warga Kampung Rawalele tewas terjatuh saat hujan deras mengguyur wilayah Waduk Perikanan RT 03/10 Kalideres, Jakarta Barat.
Kapolsek Kalideres Kompol Ewo Samono menjelaskan pada saat itu hujan turun dengan lebat, korban yang ketika itu sedang mengendarai sepeda motor jenis Suzuki Satria FU warna putih tanpa plat nomor sedang melintas.
"Pada saat melintas di TKP, korban terjatuh dari sepeda motornya lantaran mendengar suaran halilintar yang begitu keras dan pengendara motor tersebut kaget dan terpeleset lalu jatuh," kata Ewo, Senin (29/8/2016).
Akibatnya terjadi benturan yang sangat keras di bagian belakang kepala remaja tersebut lantaran terbentur batu jalanan dan langsung terkapar tidak sadarkan diri.
"Para warga langsung menolong korban, namun karena darah yang keluar dari kepala bagian belakang korban cukup deras sehingga korban meninggal dunia ditempat kejadian," ujarnya.
Polisi yang melihat kejadian tersebut langsung melakukan olah TKP dan membawa jenazah ke rumah orang tuanya di kampung Rawalele RT 002/010 Kalideres, Jakarta Barat. [ton]
Ahok Bakal Selidiki Sertifikat Bangunan di Kemang
INILAHCOM, Jakarta - Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bakal mengutus anak buahnya untuk mengusut terbitnya Sertifikat Hak Milik (SHM) beberapa bangunan di Kemang, Jakarta Selatan.
Hal itu dilakukan menyusul banjir hebat dikawasan elit tersebut Sabtu (27/8/2016) kemarin.
"Kami mau selidiki, hotelnya dapat sertifikat dari mana, dia punya kewajiban nggak? Ini mesti diteliti. Karena ini nggak bisa diperkarakan, ada sertifikat apa yang mau diperkarakan," kata Ahok di Balai Kota, Senin (29/8/2016).
Jika sertifikat tak bisa dipermasalahkan, Ahok bakal meneliti kembali apakah bangunan-bangunan komersial tersebut memiliki kewajiban yang belum dikerjakan. Jika masih ada, maka pihaknya akan segera menagih.
Ahok menilai, pasca banjir kemarin, Kali Krukut yang melintas di sepanjang Kemang, Jakarta Selatan harus segera di normalisasi. Dengan lebar awal 25 meter, Kali Krukut sekarang lebaranya hanya 5 meter. Sehingga, tidak kuat menampung debit air jika hujan deras turun.
"Itu yang masalah, kami nggak mungkin bongkar. Hak milik semua. Ini kan kejadian-kejadian dulu yang berusaha kami perbaiki. Kalau sudah jadi sertifikat, saya nggak mau bedebat gimana dapetin sertifikat ya," tandasnya.[jat]
Ahok Heran Bangunan Pinggir Kali Miliki Sertifikat
INILAHCOM, Jakarta - Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) heran dengan banyaknya bangunan di pinggir Kali Krukut yang bersertifikat. Sebab menurutnya, daerah pinggiran sungai tidak bisa didirikan bangunan komersil.
"Kali Krukut di zaman Belanda lebarnya 25 meter. Kenapa sekarang tinggal 5 meter? Karena kemarau enggak ada air, orang bikin sertifikat hak milik. Nah ini yang mesti kita beresin. 25 meter jadi 5 meter ya pasti tembok rumah orang yang bikin rumah ditepi pasti kena dia," kata Ahok di Balai Kota, Senin (29/8/2016).
Mantan Bupati Belitung Timur ini mengatakan solusi dari masalah banjir ini adalah normalisasi Kali Krukut. Selain karena kali yang menyempit, Kemang sangat minim sumber resapan air.
"Harus normalisasi, enggak ada pilihan. Karena lembah sudah dibuatin Kemang Village. Dia bikin bak tampungan, tapi bak tampungan bisa enggak gantiin air? Enggak bisa dong. Kalau kamu lembah kan beda sama bak tampungan," ungkapnya.
Ahok pun tak punya cara lain selain mengeruk kali Krukut agar mampu menampung lebih banyak debit air. Sebab normalisasi susah dilakukan karena bangunan-bangunan disekitar Kali Krukut punya sertifikat.
Sabtu (28/8/2016) banjir hebat melanda kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Luapan Kali Krukut serta tembok/tanggul jebol menyebabkan banjir meluas dan susah dikendalikan. Alhasil, kawasan Kemang lumpuh, tak bisa dilalui kendaraan. [ton]
Motor Pencuri Tertinggal di Depan Rumah Warga
INILAHCOM, Jakarta - Sebuah motor bernopol B 3736 TDR tertinggal di depan rumah H. Topik di Jl Bambu 1 Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat. Motor tersebut merupakan milik pencuri yang gagal beraksi di rumah tersebut.
Kapolsek Kembangan Kompol Aldo Ferdian menjelaskan pada saat itu saksi bernama Mardoni (37) dan seorang hansip bernama Ramin (55) melihat ada gerak-gerik mencurigakan. Pelaku memarkirkan sepeda motornya di depan rumah warga.
"Saksi melihat di rumah H. Topik ada sendal, lalu saksi melihat ada satu orang di dalam teras rumah tersebut. Karena mencurigakan saksi bertanya dan memegang jaket sweater milik pelaku namun terlepas dan ia langsung melarikan diri dan meninggalkan motor miliknya," kata Aldo, Senin (29/8/2016).
Selanjutnya saksi dibantu warga lainnya mengamankan sepeda motor yang ditinggalkan pelaku di lokasi.
"Atas kejadian tersebut warga menghubungi kami, motor diamankan di Pos Kamling," ujarnya. [ton]
Lapak Kain Bekas di Kamal Ludes Terbakar
INILAHCOM, Jakarta - Sejumlah lapak kain bekas atau potongan bahan bekas konveksi atau garmen ludes dilahap sijago merah di Jalan Kampung Belakang RT 007/03 Kamal, Kalideres, Jakarta Barat.
Sedikitnya 7 unit mobil pemadam kebakaran diturunkan ke lokasi untuk memadamkan api yang menjalar ke semua lapak yang ada dilokasi.
Kasudin Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Barat Hardisiswan menjelaskan api disebabkan oleh adanya hubungan arus pendek atau korsleting listrik.
"Tidak ada korban jiwa yah dalam insiden ini, api dapat kita padamkan selama 1 jam setengah," ujar Hardisiswan, Senin (29/8/2016).
Meski demikian, lanjut Hardisiswan, kerugian materil ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Tampak juga sejumlah anggota TNI, Polisi dan warga sekitar berusaha memadamkan api tersebut.
Hingga saat ini pemilik lapak bernama Naji (40) sedang dalam penanganan Mapolsek Kalideres untuk dimintai keterangan dan proses penyelidikan. [ton]
Kesaksian 2 Dokter RS Abdi Waluyo Beda Soal Mirna
INILAHCOM, Jakarta - Kuasa hukum Jessica Kumala Wongso, Otto Hasibuan mempertanyakan keterangan yang disampaikan dua dokter dari Rumah Sakih Abdi Waluyo. Yakni, Prima Yudo dan Ardianto.
Mengingat, keterangan Dokter Ardianto terutama dalam resume tertulis Mirna tewas sekitar pukul 18:30 WIB, sedangkan Dokter Prima Yudo mengatakan korban tewas saat perjalanan ke rumah sakit yakni sekitar pukul 18:00 WIB.
Serta persoalan pemasangan infus pun dinilai tidak termuat dalam resume. Di samping itu dari keterangan keduanya pun tidak dapat memastikan bahwa jasad Mirna terlihat kebiruan.
"Saudara bilang ada infus. Tapi tidak ada di resume," tanya Otto, Senin (29/8/2016).
Ardianto pun mengaku bahwa tidak dapat melakukan pengambilan darah saat Mirna datang ke rumah sakit Abdi Waluyo. Mengingat hal tersebut bukan wewenangnya.
"Karena yang berwenang melakukan ahli forensik," pungkasnya.[jat]
Dipinang Pakai Roti Buaya, Ahok: Rotinya Tak Enak
INILAHCOM, Jakarta - Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tak menganggap istimewa pemberian roti buaya oleh sekelompok orang yang menamakan relawan Ahok-Djarot.
"Kan tadi sudah gua makan. Aspirasi kan maunya Ahok-Djarot. Lu tadi nggak lihat buayanya pakai kacamata," ujar Ahok di Balai Kota, Senin (29/8/2016).
Bahkan, Ahok yang sudah mencicipi roti tersebut, tidak menyukai rasanya. "Roti buaya, ya. Kurang enak sih roti buaya, modelnya saja," cetusnya.
Meski tak mengenal komunitas tersebut, Ahok tetap mengapresiasi dukungan mereka.
"Semua orang yang datang ke depan juga disambut dengan baik. Lu juga gua sambut dengan baik," kata dia.
Pagi tadi, Relawan Ahok-Djarot mendorong Ahok dan Djarot kembali berduet memimpin Jakarta periode 2017-2022.
Aksi hari ini merupakan kelanjutan acara deklarasi di rumah pemenangan Ahok, Rumah Lembang, Menteng, Kamis (25/8/2016). Secara simbolis, mereka memberikan roti buaya sebagai simbol dukungan duet Ahok dan Djarot.[jat]
Pria Ini Ada Dibalik Penolakan Autopsi Jasad Mirna
INILAHCOM, Jakarta - Ardianto, Dokter Umum Emergency RS Abdi Waluyo mengaku sempat berbicara dengan seorang pria disela-sela Wayan Mirna Salihin dibawa ke rumah sakit pasca terkapar usai menyeruput es kopi Vietnam.
Dia menjelasakan, Mirna pun sempat menjalani Resusitasi Jantung Paru (RJP) kemudian Elektrokardiografi (EKG). Di samping itu ia sempat melihat bibir Mirna sudah nampak kebiruan. Sehingga kembali menawarkan orangtua korban untuk dilakukan CT Scan.
"Awalnya saya tidak tahu pria itu siapa. Kamudian saya tahu pria itu suami korban (Arief Sumarko)," kata Ardianto, Senin (29/8/2016).
Di sisi lain, Ardianto pun mengakui bahwa keluarga Mirna sempat meminta untuk jasad mendiang diautopsi. Namun pihaknya tidak dapat melakukan dengan alasan teknis pihak rumah sakit tidak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut.
"Karena rumah sakit kami tidak memungkinkan melakukan autopsi," tandasnya.[jat]
Jessica Tak Idap Penyakit Asma
INILAHCOM, Jakarta - Dokter Rumah Sakit Abdi Waluyo Ardianto memastikan Jessica tidak mengidap penyakit asma.
Sesuai pemeriksaan terhadap wanita yang kini berstatus terdakwa itu, tidak ditemukan indikasi penyakit yang biasanya menyerang saluran pernafasan tersebut.
"Jadi terdakwa juga kami periksa. Saya katakan kalau mbak hanya syok, apalagi temannya habis meninggal," kata Ardianto saat memberikan kesaksian di PN Jakpus, Senin (29/8/2016).
Menurut Ardianto, apabila mengidap asma maka Jessica akan teridentifikasi dari tanda yang membuat saluran nafasnya sesak seperti nyeri dada, batuk-batuk, dan mengi.
"Setelah diperiksa ternyata tak ada (tanda asma)" pungkasnya.
Sementara itu, sidang tewasnya Wayan Mirna Salihin akhirnya ditunda oleh hakim. Dalam persidangan ke-15 ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) hanya menghadirkan dua orang saksi dari RS Abdi Waluyo. [rok]
Minggu, 28 Agustus 2016
Jakarta Banjir, Ahok Pasrah Jadi Bahan Ejekan
INILAHCOM, Jakarta - Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pasrah menjadi bahan olokan terkait banjir yang melanda kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (28/8/2016).
Ahok merasa dirinya sudah menyampaikan musabab banjir di Jakarta yang katanya akibat tembok roboh.
"Tidak apa-apa, gue kira orang Jakarta bisa ngerti kok. Soal tembok roboh sudah saya sampaikan. Titik-titik banjir itu juga kenapa," ujar Ahok di Balai Kota, Senin (29/08/2016).
Selain Kemang, banjir rob di kawasan Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara juga menurut Ahok bukan sepenuhnya salah Pemprov.
Ahok menjelaskan, jika ketinggiannya mencapai 2,8 meter maka pompa yang dimiliki pemerintah pun tidak sanggup mengembalikan air ke laut. Dia pun memastikan bahwa kawasan tersebut dan utara Jakarta lainnya akan tenggelam lantaran tanggul tipe A belum selesai dibangun.
"Kalau dibilang kenapa gak bikin tanggul dari dulu, aku mau dorong-dorong (gusur), lu orang marah sama saya. Ini aja sudah maksa, sudah kasar," ungkap Ahok.
Ahok pun berjanji akan mencari cara agar Jakarta bebas dari banjir, meski diguyur hujan deras sekalipun.
Sebelumnya Ahok mengklaim Jakarta sudah bebas dari banjir walau diguyur hujan deras. Namun kenyataan, berita banjir di Kemang menjadi pusat pemberitaan. Ahok pun harus terima cibiran dan ejekan dari banyak pihak atas pernyataannya tersebut. [rok]
Dinilai Efektif, Ganjil-Genap Siap Berlaku Besok
INILAHCOM, Jakarta - Dinas Perhubungan dan Transportasi (Dishubtrans) DKI Jakarta siap menjalankan sistem ganjil-genap.
Setelah diujicoba selama satu bulan dan memberi efek positif, Dishubtrans merampungkan semua sarana pendukung untuk penerapan sistem pengganti 3 in 1 tersebut.
"Selasa 30 Agustus 2016 akan diberlakukan ganjil-genap dengan landasan hukum Pergub Nomor 164 tahun 2016 tentang Pembatasan Lalu Lintas dengan sistem Ganjil-Genap," kata Kadishub Andri Yansyah, Senin (29/8/2016).
Dari hasil evaluasi ujicoba ganjil-genap selama satu bulan, waktu perjalanan kendaraan mengalami penurunan sekitar 19%, kecepatan kendaraan meningkat rata-rata 20%, volume lalu lintas terjadi penurunan sekitar 15%.
"Pelayanan Transjakarta juga mengalami peningkatan. Waktu tunggu lebih cepat antara dua sampai 10 menit di sejumlah koridor," ujarnya.
Selain itu, Dishub juga mencatat adanya peningkatan jumlah penumpang bus Transjakarta.
"Peningkatan jumlah penumpang Transjakarta terjadi secara signifikan. Di Koridor I (Blok M - Kota) 32 persen, koridor VI (Ragunan - Dukuh Atas) 27 persen dan Koridor IX (Pinang Ranti - Pluit) 30 persen," tandasnya.
Atas dasar itu, Dishub yakin pemberlakuan ganjil-genap dengan denda maksimal akan semakin meningkatkan kesadaran masyarakat pengguna jalan di Ibukota. [rok]